BUBUR TINUTUAN
Bubur
tinutuan merupakan makanan khas masyarakat daerah Manado, Sulawesi Utara. Bubur
tinutuan awalnya dikenal sebagai makanan khas masyarakat Minahasa. Namun kini,
bubur tinutuan dikenal secara nasional sebagai makanan khas Manado dan bahkan
sekarang banyak juga digemari oleh para turis asing. Siapa yang menyangka bahwa
makanan yang menjadi moto kota Manado ini tercipta dari sebuah ketidaksengajaan
seorang petani.
Dulu,
ada seorang petani yang kemalaman di kebunnya, sehingga ia memutuskan untuk
bermalam saja di kebunnya itu. Karena kelaparan, petani itu mencari bahan-bahan
yang dapat digunakan untuk dia masak sebagai pengganjal perutnya. Namun, tak
semua bahan itu ada, sehingga ia menggunakan bahan seadanya untuk diramu
menjadi sebuah masakan. Pada saat itu yang tersedia hanya sedikit beras dan
garam. Juga tidak ada lauk,
tidak ada minyak goreng. Kebiasaan petani di Minahasa adalah selalu menyediakan
garam di pondoknya. Peralatan untuk memasak pun, hanya ada sebuah belanga.
Bermodalkan keterbatasan ini, si petani menemukan ide praktis.
Ia
mengambil beras lalu menanaknya dengan air banyak sehingga menjadi encer
seperti bubur. Karena tidak ada lauk, maka yang dapat ia lakukan hanyalah
mengumpulkan sayur-sayuran sebagai bahan tambahan. Itu pun yang ada di sekitar
kebunnya. Tanaman sayur-sayuran itu meliputi labu (sambiki), daun gedi, pucuk
daun sambiki, rebung dari bambu pagar, buah taruptup (tumbuhan hutan yang
berbuah seperti tomat), pucuk daun pepaya, dann lain-lain. Sesudah masakan ini
selesai ia membuat sambal yang disebut dabu-dabu lilang. Sambal ini dinamakan
dabu-dabu lilang karena waktu mengolahnya tidak ada cobek, sehingga ia
menggunakan sebilah parang yang di Minahasa disebut “lilang”. Saat itu tinutuan
dinikmati dengan saguer (sagu aer) yaitu
nira yang disadap dari pohon seho (Aren). Namun kini resepnya mulai disesuaikan
dengan menambahkan bahan dan bumbu lain.
Resep bubur manado atau tinutuan yang
saya kutip dari duniakulinernusantara.blogspot.com adalah :
1. Bahan-bahan
- beras pulen 100 gram, cuci
bersih dan sisihkan
- ubi jalar kuning 200 gram,
potong kecil-kecil
- labu kuning 200 gram, potong
kecil-kecil
- jagung manis 2 biji, sisir
bijinya.
- daun bayam 100 gram
- daun kangkung 100 gram
- 1 batang daun bawang, iris kasar
- 20 helai daun kemangi
- 2 sendok teh garam
- 2 tangkai daun lelem
- sambal rawit
- ikan asin jambal roti, potong
kecil, goreng
- 1 liter air
2.
Cara Membuat Bubur Manado (Tinutuan)
1. Pertama-tama, didihkan air.
2. Masukan beras sampai setengah masak.
3. Masukan ubi, jagung, dan labu. Masak hingga layu.
4. Tambahkan juga kangkung, daun bayam, daun kemangi dan
lelem.
5. Masak sambil sesekali di aduk-aduk sampai layu.
6. Tambahkan garam, aduk rata.
7. Angkat dan sajikan
Tinutuan ini biasanya disajikan untuk sarapan pagi. Tinutuan
dapat disajikan dengan ikan asin serta berbagai macam pelengkap
hidangan. Di Manado, tinutuan disajikan dengan perkedel
nike, sambal
roa (rica roa, dabu-dabu roa), ikan cakalang fufu atau tuna asap dan perkedel jagung. Tinutuan yang disajikan bersama mi disebut midal. Akhiran dal tersebut berasal dari kata pedaal
yakni nama lain untuk tinutuan khusus di wilayah Minahasa Selatan yang merupakan wilayah subetnis Tountemboan di Minahasa.
Tinutuan juga dapat dicampur dengan sup kacang merah yang disebut brenebon. Tinutuan yang dicampur dengan brenebon ini kadang juga
ditambahkan tetelan sapi, yang konon dipercaya orang yang memakannya dapat menarik
"roda" (gerobak). Pada komunitas Kristen di Manado, tinutuan yang dicampur dengan brenebon ini dapat
juga disajikan khusus yaitu dengan ditambahkan kaki babi, biasanya pada acara khusus seperti
acara tumpah makan yaitu pada hari pengucapan
syukur di
Manado.
Tinutuan dipakai menjadi moto kota Manado sejak kepemimpinan Wali Kota Jimmy
Rimba Rogi dan Wakil
Wali Kota Abdi
Wijaya Buchari
periode 2005-2010, menggantikan moto Kota Manado sebelumnya yaitu Berhikmat. Pemerintah
Kota Manado melalui Dinas Pariwisata setempat pada tahun 2004 (ada juga yang
mengatakan pada pertengahan tahun 2005) menjadikan Kawasan Wakeke, Kecamatan Wenang, Kota Manado, sebagai lokasi wisata makanan khas
tinutuan. Titunuan sendiri berarti semrawut atau campur aduk dalam bahasa
Minahasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar